Potensi teman-teman sekelasku di Madrasah Tsanawiyah yang terbatas membuat aku kembali memaksa mereka untuk mengatakan aku pintar. Sebab nilaiku selalu di atas mereka, bahkan mendapat predikat juara umum.
Dengan jarak 3 km dari rumahku, aku terpaksa bolak-balik menelusuri jalan setapak setiap pagi dan siang. Begitulah rutinitas ku setiap hari dengan harapan, kelak bakal menggantikan guru-guruku di MTs. Begitulah, aku hanya mampu bercita-cita menjadi guru. Sebab, untuk lebih dari itu, rasanya tak mungkin.
Rasanya pegal juga kakiku dan bosan juga ketika harus menapaki pematang sawah hingga membentuk jalan baru. Untuk itu, aku terpaksa tuk memaksa bapakku untuk membelikan kendaraan, meskipun hanya berupa sepeda buntut. "Ga usah pake sepeda, mending nanti Bapak buati kincir angin buat kau bawa berlarian sambil pulang sekolah. Ntar lelahnya juga ga terasa menikmati putaran kincir mu," guraunya.
Dengan bekal sepeda buntut bermerk 'Edison', ternyata membuat perjalananku semakin jauh. Bayangkan, aku harus bolak-balik empat kali sehari, karena kata bapakku, aku harus mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Sebut saja, latihan Karate yang dilatih oleh guru Oleh Ragaku yang 'Jegol' itu. Pak Rauhul Islam, namanya. Aku juga harus belajar nahwu sharf di guru idolaku. Ustadz Jumahir, namanya.
Aku ga kuat menjalaninya. Keputusannya adalah, tinggal di desa, dekat sekolahku bersama keluarga baik ku. Aku tidak mau menyia-nyiakan. Aku harus nyantri, hingga hasil nyantri itulah yang menjadi bekalku hingga di tingkat pendidikan berikutnya. Nahwu Sharf itulah yang mengantarku diterima menjadi siswa di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK), sebuah MA negeri yang dikelola secara khusus dengan sistem pondok pesantren.***
13 September 2007
Sekolah Sambil Nyantri
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar