Sering kita diperdengarkan, bagaimana satu kelompok Islam tertentu sangat anti terhadap kami yang menolak formalisasi Islam. Mereka yang mengecam, sepertinya salah menafsirkan tentang apa yang diinginkan oleh kami yang menolak formalisasi Islam. Sebelumnya, kita layak menyatukan persepsi bahwa sesungguhnya tidak ada yang salah di antara kita berdua. Perlu diketahui bahwa kami menolak "FORMALISASI ISLAM" bukan menolak "SYARI'AT ISLAM".
Kami sepakat bahwa menjalankan syari'at Islam adalah wajib. Tetapi bagaimana menjalankannya adalah hak kita bersama. Kami ingin menjalankan syari'at Islam sesuai dengan penafsiran dan keyakinan kami.
Kami tidak percaya kepada negara untuk mengatur hubungan kami kepada Allah.
Lebih-lebih ketika aparatur negara sendiri tidak memahami Islam. Mereka kadang-kadang mebuat perda bernuansa Syari'at Islam dengan persepsinya sendiri, tidak lain untuk mendukung dan memperkuat posisinya secara politis. Bahkan salah menfsirkan nilai-nilai agama. Bagaimana mungkin negara bisa mewajibkan suatu yang sunnah?
Kalaupun ada aparatur negara yang fashih dengan Islam, kami belum tentu sekeyakinan. Kita perlu menyadari bahwa perbedaan adalah sunnatullah, termasuk dalam memahami Islam. Coba kita kembali kepada zaman khulafaurrosyidin. Berbagai aliran muncul pasca wafatnya Rasulullah. Tujuh puluh dua liran berkembang hingga ke Indonesia. Lalu, ketika seorang muslim, menjadi aparatur negara yang ingin menerapkan syari'at islam secara institusi negara, lalu Islam yang manakah yang akan diterapkan. Atau jangan-jangan syari'at Islam yang mau diterapkan berbeda dengan keyakinan saya. Wal hasil, terjadilah konflik internal.
Coba kita lihat negara-negara Islam khususnya di Timur Tengah. Sampai sejauh ini, konflik di Irak, Iran, justeru terjadi karena perbedaan Syari'at. Irak hancur karena tidak bisa bersatunya Sunni dan Syi'ah. Oleh rezim Saddam, Syi'ah selalu dimarjinalkan karena Saddam adalah Penguasa dari Suni. Maka, begitu mudah Irak dihancurkan oleh AS lantaran Syi'ah turun tangan mengnacurkan negaranya sendiri karena sakit hati dengan Saddam.
Saya adalah pengagum presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad yang dengan tegas berani melawan hegemoni Amerika. Dan hampir semua umat Islam mengecam Amerika. Lalu kenapa Iran tidak didukung oleh negara-negara Arab. Bahkan mereka membuat gerakan tandingan. Mereka khawatir kalau Iran selaku negara berbasis Syi'ah bisa menjadi negara dominan di Timur Tengah lantaran keberaniannya. Motifnya karena mereka berbeda aliran. Yang satu Sunni dan satunya lagi Syi'ah.
Intinya:
1. Saya tidak ingin agama saya dipermainkan secara politis,
2. Saya tidak ingin dipaksa menjalankan syari'at Islam tertentu,
3. Saya tidak ingin ada pertikaian,
4. Saya tidak ingin negara saya mudah dimasuki untuk dihancurkan lantaran umatnya terpecah belah.
5. Dengan Pancasila, kita sudah cukup aman untuk beribadah dan menjalankan syari'at Islam secara kaffah.***
07 Desember 2007
Formalisasi Islam Tidak Bisa Dipaksakan
Label: Artikel