Kenaikan harga minyak mentah dunia benar-benar menjadi pukulan bagi pemerintah Indonesia. Harga minyak dunia yang terus meroket hingga US$ 120 per barel berakibat pada devisitnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2008.
Padahal subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) pada APBN 2008 hanya Rp. 45 triliun. Jumlah ini meningkat menjadi Rp. 260 triliun dengan asumsi harga BBM US$ 95 dolar per barel pada APBNP 2008 ini. Jumlah tersebut terus meningkat seiring semakin maningkatnya harga minyak mentah dunia. Inilah yang membuat APBNP devisit.
Mengatasi masalah ini, pemerintah nampaknya cukup dilematis. Di satu sisi negara harus menanggung beban subsidi yang semakin besar, dan di sisi lain rakyat harus tetap mendapatkan harga BBM yang tidak terlalu mahal. Oleh karena itu, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono segera angkat bicara memberikan pengertian kepada jajaran pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia.
Dalam pidatonya yang disiarkan di hampir semua televisi nasional (30/4), Presiden SBY meminta agar masyarakat memaklumi kondisi ini serta menerima semua konsekwensinya. Sebab, ini bukan hanya masalah bagi Indonesia, tetapisudah menjadi masalah bagi negara-negara lain. Maka, salah satu solusi terbaik adalah dengan melakukan penghematan baik oleh jajaran pemerintah maupun seluruh rakyat Indonesia.
”Kita akan melakukan penghematan belanja departemen dan jajaran pemerintah. Menghemat penggunaan BBM, listrik dan Air Condisioner (AC). Saya meminta tempat-tempat hiburan dan juga pusat perbelanjaan dapat melakukan efisiensi untuk penghematan serupa. Konsumsi bahan bakar kendaraan dinas maupun pribadi juga perlu dibatasi. Ini dilakukan untuk mempertahankan agar APBN tetap sehat sebagai instrumen pembangunan bangsa,” papar Presiden. (MH)
(OPINI INDONESIA/Edisi 98/Nasional)
10 Mei 2008
Menyelamatkan APBN, Rakyat Diminta Berhemat
Label: Berita dari Opini Indonesia







